Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Tihingan (3-habis): Disiksa Tentara NICA di Penjara

informasibali.com/ist

Hari-hari nahas dan saat-saat tidak menguntungkan mulai menampakkan bayangannya. Pada suatu hari terjadi penggerebegan di geriya oleh pasukan tentara NICA. Semuanya digeledah, atap tembok, kamar-kamar dan lainnya. Semuanya tak luput dari penggeledahan. Walaupun tak ada sesuatu (senjata) yang didapati. Tetapi Ida Bagus Ngurah Gog hari itu juga diangkut dibawa ke Klungkung. Sesama teman seperjuangan saling tanya tentang kemungkinan terjadinya kebocoran. Tak ada seorangpun yang dapat memberi jawaban/kejelasan. sambil melakukan tugas seperti biasanya (ke kantor, ke sekolah dan lainnya).

Baca juga: Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Tihingan (1): Cap Jempol Darah Dukung Republik

Beberapa hari kemudian baru diketahui bahwa para pimpinan di Klungkung yaitu Cokorda Anom Putra, Cokorda Raka, I Gusti Ketut Tugug dan Ida bagus Anom semuanya sudah ditangkap. Ada yang ditahan di Karangasem (Puri) dan ada yang ditahan di Klungkung. Juga terdengar informasi betapa gigihnya perlawanan yang dilancarkan oleh para gerilyawan kita di daerah pedalaman.

Dengan peristiwa penangkapan itu, gerak langkah perjuangan selanjutnya dilakukan sangat berhati-hati, karena kegiatan patroli tentara Belanda NICA (Netherlands Civil Administration) terus meningkat tajam. Setiap saat di jalur jalan Tihingan ke utara dan ke selatan bertemu dengann tentara NICA, berdua, bertiga atau lebih. Kurang lebih dua bulan berselang, hari nahas datang lagi. Pengurus staf Bhima lainnya menerima giliran. Tentara NICA dan Polisi NICA beraksi. Selama dua hari berturut-turut dilakukan penangkapan. Wayan Suji, Nyoman Bebas, Nyoman Kondra, Made Wenten, Wayan Sudha, Nyoman Nesa, Made Orta dan AA. Gde Oka diambil di tempatnya masing-masing. Ada di sekolah, ada di jalan, dan ada yang sedang di rumah. Semuanya dibawa ke Klungkung. Selama beberapa hari ditempatkan di kantor polisi (masih di selatan penjara-Kampung Jawa).

Maka mulailah suatu kehidupan baru bagi kami yang ditangkap. Hidup sebagai orang tahanan dalam lingkungan baru pula. Selama sepuluh hari pertama, setelah kami dipindahkan dari Asrama Polisi ke panjara hampir tiap malam sekitar jam 21.00 terdengar gemerincing kunci pintu penjara, berarti ada tahanan yang akan diambil dari sel untuk diperiksa. Bergilir kami dipanggil-diperiksa-disiksa semaunya (dipukul dan ditendang) dalam keadaan gelap. Sedangkan pemeriksa membawa lampu senter.

Kembali ke penjara (sel) sambil mengerang kesakitan. Begitu terjadi tiap malam dua atau tiga orang mendapat panggilan pemeriksaan. Tidak seorangpun yang tidak ada kena pukul. Semua kena pukul atau tendangan, mungkin bedanya ada yang keras atau sedang-sedang. Sore hari keesokannya diantar mandi ke kali Unda dengan berbaris dikawal dua atau tiga orang tentara NICA lengkap dengan senapan dan bayonet. Kembali dari mandi masing-masing harus membawa batu kali dikumpulkan di halaman penjara. Pemandangan ini hampir rutin setiap sore, seperti sengaja dipertontonkan kepada masyarakat Kota Klungkung.

Apabila tiba waktu makan siang atau sore, masing-masing menerima jatah makanan nasi, ikan kering, kacang kedele yang ditaburi butir-butir pasir, yang memaksa kami harus memilihnya satu per satu dengan sabar, kalau tidak ingin kelaparan. Beberapa teman yang tidak tahan terpaksa tak makan (mekenta), tetapi tentunya hanya mampu bertahan dalam satu atau dua hari saja. Selanjutnya terpaksa ikut memilih makan dengan sabar.

Menyadari semua siksaan ini adalah ujian, kami tetap bertahan dalam pemeriksaan semaksimal mungkin. Betapapun perihnya, getirnya, kami mencoba bertahan untuk menghindarkan agar tidak lebih banyak lagi masyarakat kami yang dijebloskan ke rumah tahanan.

Setelah masa 10 hari yang menegangkan itu lewat, terjadi sedikit perubahan. Pemeriksaan dihentikan. Setiap pagi kami diantar ke asrama tentara NICA (di belakang kantor bupati sekarang). Mengerjakan pembangunan bangsal untuk asrama mereka. Bila sudah waktu makan siang, kami diantar ke penjara, makanan boleh diantar dari rumah masing-masing. Habis makan siang, kami kembali dijemput dan diantar ke asrama tentara. Masing-masing menerima tugas, ada yang mengambil kayu api di Penelokan (Suter) berdua atau bertiga untuk memenuhi truk 6 ton, ada menjadi "sinyo" (pemungut bola tenis) dan lainnya. Mandi sore tetap berbaris ke Kali Unda dan dikawal. Pengalaman pahit ini adalah pengalaman kami bersama teman-teman dari staf yang lain di Kabupaten Klungkung.

Keadaan masyarakat desa khususnya kami di Tihingan memang agak "shock", tetapi berkat pengertian mereka bahwa berjuang itu mengandung risiko, maka goncangan itu tidak berlangsung lama. Satu kebetulan pula setelah Wayan Cakranegara yang ditahan juga di Bangli, tetapi dibebaskan lebih dahulu dari kami yang di Klungkungm, dapat membantu para pimpinan desa lebih menenangkan masyarakat khususnya keluarga mereka yang ditahan. Kegiatan seni gong pun masih dapat bertahan sampai akhirnya aktif kembali setelah keadaan menjadi tenang.

Setelah kami mengalami penderitaan sebagai tahanan selama berbulan bulan bahkan ada yang setahun lebih, berangsur-angsur kami pun dibebaskan di kala kalender menunjukkan tahun 1948. Pada tahap berikutnya, dengan semangat juang yang memang tak pernah padam, masing-masing meneruskan perjalanan hidup sesuai  jalur dan profesinya.

Baca juga: Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Tihingan (2): Berjuang Lewat Kelompok Sandiwara

Demikianlah sejarah singkat urun bhakti perjuangan seluruh masyarakat anggota dan pendukung staf Bhima di Desa/Perbekelan Tihingan khususnya, Kecamatan Banjarangkan Klungkung umumnya, bagi bangsa, Negara Indonesia merdeka tercinta. Pada akhirnya kami berharap dan memohon kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pemurah, semoga kepada generasi penerus diberikan kemampuan utnuk menjadi pewaris yang baik, yang dapat berbuat bhakti lebih banyak dari kami para pendahulunya. (sumber tulisan: catatan I Nyoman Kondra)


TAGS :

Komentar